Bacaan: Mazmur 12:1-9
Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji...- Mazmur 12:7
Salah satu gempa bumi terbesar di dunia terjadi pada tahun 1989 di Armenia. Hanya perlu waktu empat menit untuk meratakan seluruh area dan menewaskan 30.000 orang. Beberapa saat setelah gempa hebat itu, seorang ayah berlari menuju ke sebuah sekolah yang baru saja diratakan oleh gempa. Sambil memandang puing-puing reruntuhan, ia teringat akan janjinya kepada anaknya, “Apapun yang terjadi, papa selalu ada untuk kamu.” Sementara orang tua lain sudah putus asa, menangis dan berpikir bahwa anaknya pasti sudah mati, pria ini justru mulai menyingkirkan puing-puing itu dan mencari anaknya yang tertimbun. Meski semua orang membujuknya untuk berhenti melakukan pencarian yang sia-sia, pria ini tetap saja melakukannya. Setelah 36 jam ia menggali tanpa henti, ia mendengar suara anaknya! Sang anak ditemukan dalam keadaan hidup, karena anak tersebut selalu ingat janji ayahnya bahwa ia akan selalu ada untuknya.
Saat membaca kisah tersebut, saya langsung teringat dengan Tuhan. Teringat akan setiap janji-janji-Nya yang selalu saya baca setiap pagi. Teringat janji-janji-
Nya ketika keadaan menjadi sedemikian sulit. Sekaligus mengingat bahwa tak sekalipun Ia mengingkari apa yang telah Ia janjikan. Janji yang bisa dipercaya.
Perkataan yang tak pernah Ia ingkari. Saya selalu ingat bahwa Ia selalu ada untuk saya. Sampai hari ini saya buktikan bahwa penyertaan-Nya sungguh sempurna.
Dalam hal ini, masalah yang muncul bukanlah seberapa bisa Allah menggenapi janji-janjiNya, namun seberapa besar keyakinan kita akan janji-janji Allah.
Sekalipun kita tahu bahwa janji Allah bisa dipercaya, kita lebih suka memilih untuk meragukan-Nya. Kita membiarkan diri kita diombang-ambingkan oleh
kebimbangan, bukannya menancapkan janji Allah itu sebagai sauh yang kuat. Sungguh berharap bahwa renungan pada hari ini akan memupus keraguan kita akan janji-janji-Nya. Jika seorang ayah dalam bencana di Armenia itu bisa berbuat sedemikian dramatis hanya untuk memenuhi janjinya kepada anaknya, apalagi Bapa kita di surga.
Hanya satu perkara yang tidak bisa dilakukan oleh Allah kita yang serba bisa : melupakan dan mengingkari janji-Nya kepada kita.
Kamis, 29 September 2011
Cara Tuhan
malam ini, saya terbangun karena teringat akan beberapa hal yang harus saya kerjakan segera...
diselingi main internet,,saya tidak sengaja melihat seorang teman membuat posting tentang salah acara televisi yang cukup terkenal dan saya termasuk seorang penggemar acara tersebut.
Kick Andy's..ini nama acaranya,,sudah lama saya tidak mengunjungi website salah satu acara insipratif di Indonesia ini..
setelah beberapa saat saya melihat dan membaca saya menemukan salah satu cerita inspiratif dari semua yang saya baca malam ini...Ceritanya berbicara tentang cara Tuhan melakukan caraNya untuk menolong umat yang di kasihiNya...
begini cerita selengkapnya :
Malam itu saya gelisah. Tidak bisa tidur. Pikiran saya bekerja ekstra keras. Dari mana saya bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Sampai jam tiga dini hari otak saya tetap tidak mampu memecahkan masalah yang saya hadapi.
diselingi main internet,,saya tidak sengaja melihat seorang teman membuat posting tentang salah acara televisi yang cukup terkenal dan saya termasuk seorang penggemar acara tersebut.
Kick Andy's..ini nama acaranya,,sudah lama saya tidak mengunjungi website salah satu acara insipratif di Indonesia ini..
setelah beberapa saat saya melihat dan membaca saya menemukan salah satu cerita inspiratif dari semua yang saya baca malam ini...Ceritanya berbicara tentang cara Tuhan melakukan caraNya untuk menolong umat yang di kasihiNya...
begini cerita selengkapnya :
Andy`s Corner
Minggu, 07 Juni 2009 11:01:00 WIB
Cara Tuhan
Malam itu saya gelisah. Tidak bisa tidur. Pikiran saya bekerja ekstra keras. Dari mana saya bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Sampai jam tiga dini hari otak saya tetap tidak mampu memecahkan masalah yang saya hadapi.
Tadi sore saya mendapat kabar dari rumah sakit tempat kakak saya berobat. Menurut dokter, jalan terbaik untuk menghambat penyebaran kanker payudara yang menyerang kakak saya adalah dengan memotong kedua payudaranya. Untuk itu, selain dibutuhkan persetujuan saya, juga dibutuhkan sejumlah biaya untuk proses operasi tersebut.
Soal persetujuan, relatif mudah. Sejak awal saya sudah menyiapkan mental saya menghadapi kondisi terburuk itu. Sejak awal dokter sudah menjelaskan tentang risiko kehilangan payudara tersebut. Risiko tersebut sudah saya pahami. Kakak saya juga sudah mempersiapkan diri menghadapi kondisi terburuk itu.
Namun yang membuat saya tidak bisa tidur semalaman adalah soal biaya. Jumlahnya sangat besar untuk ukuran saya waktu itu. Gaji saya sebagai redaktur suratkabar tidak akan mampu menutupi biaya sebesar itu. Sebab jumlahnya berlipat-lipat dibandingkan pendapatan saya. Sementara saya harus menghidupi keluarga dengan tiga anak.
Sudah beberapa tahun ini kakak saya hidup tanpa suami. Dia harus berjuang membesarkan kelima anaknya seorang diri. Dengan segala kemampuan yang terbatas, saya berusaha membantu agar kakak dapat bertahan menghadapi kehidupan yang berat. Selain sejumlah uang, saya juga mendukungnya secara moril. Dalam kehidupan sehari-hari, saya berperan sebagai pengganti ayah dari anak-anak kakak saya.
Dalam situasi seperti itu kakak saya divonis menderita kanker stadium empat. Saya baru menyadari selama ini kakak saya mencoba menyembunyikan penyakit tersebut. Mungkin juga dia berusaha melawan ketakutannya dengan mengabaikan gejala-gejala kanker yang sudah dirasakannya selama ini. Kalau memikirkan hal tersebut, saya sering menyesalinya. Seandainya kakak saya lebih jujur dan berani mengungkapkan kecurigaannya pada tanda-tanda awal kanker payudara, keadaannya mungkin menjadi lain.
Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Pada saat saya akhirnya memaksa dia memeriksakan diri ke dokter, kanker ganas di payudaranya sudah pada kondisi tidak tertolong lagi. Saya menyesali tindakan kakak saya yang “menyembunyikan” penyakitnya itu dari saya, tetapi belakangan -- setelah kakak saya tiada -- saya bisa memaklumi keputusannya. Saya bisa memahami mengapa kakak saya menghindar dari pemeriksaan dokter. Selain dia sendiri tidak siap menghadapi kenyataan, kakak saya juga tidak ingin menyusahkan saya yang selama ini sudah banyak membantunya.
Namun ketika keadaan yang terbutruk terjadi, saya toh harus siap menghadapinya. Salah satu yang harus saya pikirkan adalah mencari uang dalam jumlah yang disebutkan dokter untuk biaya operasi. Otak saya benar-benar buntu. Sampai jam tiga pagi saya tidak juga menemukan jalan keluar. Dari mana mendapatkan uang sebanyak itu?
Kadang, dalam keputus-asaan, terngiang-ngiang ucapan kakak saya pada saat dokter menganjurkan operasi. “Sudahlah, tidak usah dioperasi. Toh tidak ada jaminan saya akan terus hidup,” ujarnya. Tetapi, di balik ucapan itu, saya tahu kakak saya lebih merisaukan beban biaya yang harus saya pikul. Dia tahu saya tidak akan mampu menanggung biaya sebesar itu.
Pagi dini hari itu, ketika saya tak kunjung mampu menemukan jalan keluar, saya lalu berlutut dan berdoa. Di tengah kesunyian pagi, saya mendengar begitu jelas doa yang saya panjatkan. “Tuhan, sebagai manusia, akal pikiranku sudah tidak mampu memecahkan masalah ini. Karena itu, pada pagi hari ini, aku berserah dan memohon Kepada-Mu. Kiranya Tuhan, Engkau membuka jalan agar saya bisa menemukan jalan keluar dari persoalan ini.” Setelah itu saya terlelap dalam kelelahan fisik dan mental.
Pagi hari, dari sejak bangun, mandi, sarapan, sampai perjalanan menuju kantor otak saya kembali bekerja. Mencari pemecahan soal biaya operasi. Dari mana saya mendapatkan uang? Adakah Tuhan mendengarkan doa saya? Pikiran dan hati saya bercabang. Di satu sisi saya sudah berserah dan yakin Tuhan akan membuka jalan, namun di lain sisi rupanya iman saya tidak cukup kuat sehingga masih saja gundah.
Di tengah situasi seperti itu, handphone saya berdering. Di ujung telepon terdengar suara sahabat saya yang bekerja di sebuah perusahaan public relations. Dengan suara memohon dia meminta kesediaan saya menjadi pembicara dalam sebuah workshop di sebuah bank pemerintah. Dia mengatakan terpaksa menelepon saya karena “keadaan darurat”. Pembicara yang seharusnya tampil besok, mendadak berhalangan. Dia memohon saya dapat menggantikannya.
Karena hari Sabtu saya libur, saya menyanggupi permintaan sahabat saya itu. Singkat kata, semua berjalan lancar. Acara worskshop itu sukses. Sahabat saya tak henti-henti mengucapkan terima kasih. Apalagi, katanya, para peserta puas. Bahkan pihak bank meminta agar saya bisa menjadi pembicara lagi untuk acara-acara mereka yang lain.
Sebelum meninggalkan tempat workshop, teman saya memberi saya amplop berisi honor sebagai pembicara. Sungguh tak terpikirkan sebelumnya soal honor ini. Saya betul-betul hanya berniat menyelamatkan sahabat saya itu. Tapi sahabat saya memohon agar saya mau menerimanya.
Di tengah perjalanan pulang hati saya masih tetap risau. Rasanya tidak enak menerima honor dari sahabat sendiri untuk pertolongan yang menurut saya sudah seharusnya saya lakukan sebagai sahabat. Tapi akhirnya saya berdamai dengan hati saya dan mencoba memahami jalan pikiran sahabat saya itu.
Malam hari baru saya berani membuka amplop tersebut. Betapa terkejutnya saya melihat angka rupiah yang tercantum di selembar cek di dalam amplop itu. Jumlahnya sama persis dengan biaya operasi kakak saya! Tidak kurang dan tidak lebih satu sen pun. Sama persis!
Mata saya berkaca-kaca. Tuhan, Engkau memang luar biasa. Engkau Maha Besar. Dengan cara-Mu Engkau menyelesaikan persoalanku. Bahkan dengan cara yang tidak terduga sekalipun. Cara yang sungguh ajaib.
Esoknya cek tersebut saya serahkan langsung ke rumah sakit. Setelah operasi, saya ceritakan kejadian tersebut kepada kakak saya. Dia hanya bisa menangis dan memuji kebesaran Tuhan.
Tidak cukup sampai di situ. Tuhan rupanya masih ingin menunjukkan kembali kebesaran-Nya. Tanpa sepengetahuan saya, Surya Paloh, pemilik harian Media Indonesia tempat saya bekerja, suatu malam datang menengok kakak saya di rumah sakit. Padahal selama ini saya tidak pernah bercerita soal kakak saya.
Saya baru tahu kehadiran Surya Paloh dari cerita kakak saya esok harinya. Dalam kunjungannya ke rumah sakit malam itu, Surya Paloh juga memutuskan semua biaya perawatan kakak saya, berapa pun dan sampai kapan pun, akan dia tanggung. Tuhan Maha Besar.
Gimana cerita Anda tentang kasihNya dalam kehidupan Anda??
Rabu, 28 September 2011
SMS Romantis
wah..wah..akhirnya saya punya akses menulis lagi...
ehmm..sekarang saya mau cerita tntang kekasih saya...hehehe,,
Tepatnya tanggal 10 September 2011 pukul 08.00....
ponsel saya berdering tanda ada sms masuk, biasanya yang selalu menghiasi hape saya ya sms kekasih saya itu..
entah ada angin apa,,yang saya baca sms romantis yang baru pertama kali dia kirimkan ke saya selama hampir 2 tahun berpacaran,,,hahahaha,,,lucu juga..aku sambil tertawa kecil membacanya,,seneng gitu...
bunyinya kayak gini "Cinta adalah anugerah. Sejauh apapun jarak yang memisahkannya, kamu bisa lebih dekat dengannya saat hatimu bisa mencintainya.."
mungkin menurut kalian biasa,,tapi buat saya ini sungguh luar biasa,,,
i love you cintaa
ehmm..sekarang saya mau cerita tntang kekasih saya...hehehe,,
Tepatnya tanggal 10 September 2011 pukul 08.00....
ponsel saya berdering tanda ada sms masuk, biasanya yang selalu menghiasi hape saya ya sms kekasih saya itu..
entah ada angin apa,,yang saya baca sms romantis yang baru pertama kali dia kirimkan ke saya selama hampir 2 tahun berpacaran,,,hahahaha,,,lucu juga..aku sambil tertawa kecil membacanya,,seneng gitu...
bunyinya kayak gini "Cinta adalah anugerah. Sejauh apapun jarak yang memisahkannya, kamu bisa lebih dekat dengannya saat hatimu bisa mencintainya.."
mungkin menurut kalian biasa,,tapi buat saya ini sungguh luar biasa,,,
i love you cintaa
Kamis, 15 September 2011
Kepak Sayap Sang merpati Tua
hari semakin larut, cahaya sang mentari sudah tak lagi terang
merpati harus sudah kembali ke sarangnya lagi...
entah apa yang sekarang dipikirkannya sekarang?
mendadak kepakannya melambat dan dia sudah malas untuk terbang lagi,,,
sang merpati bertengger di dahan sebuah pohon tua, sambil memandang langit.
sesaat kemudian dia berseru..."Tuhan, jika Engkau berkenan, kiranya aq mati,, sehingga aku bisa tenang di pangkuanMu....
kawan,kita masih muda...tak seharusnya kita mempunyai sikap menyerah seperti cerita di atas,,,dia sudah malas untuk mengetahui apa maksud hidupnya..yang dia inginkan hanya sebuah kenyamanan tanpa adanya usaha untuk mendapatkannya..
Sang Merpati tersebut sebenarnya masih muda, tapi semangatnya yang tua...
tunjukan kita beda
tunjukan kita mampu
dan tunjukan siapa kita sebenarnya
merpati harus sudah kembali ke sarangnya lagi...
entah apa yang sekarang dipikirkannya sekarang?
mendadak kepakannya melambat dan dia sudah malas untuk terbang lagi,,,
sang merpati bertengger di dahan sebuah pohon tua, sambil memandang langit.
sesaat kemudian dia berseru..."Tuhan, jika Engkau berkenan, kiranya aq mati,, sehingga aku bisa tenang di pangkuanMu....
kawan,kita masih muda...tak seharusnya kita mempunyai sikap menyerah seperti cerita di atas,,,dia sudah malas untuk mengetahui apa maksud hidupnya..yang dia inginkan hanya sebuah kenyamanan tanpa adanya usaha untuk mendapatkannya..
Sang Merpati tersebut sebenarnya masih muda, tapi semangatnya yang tua...
tunjukan kita beda
tunjukan kita mampu
dan tunjukan siapa kita sebenarnya
Rabu, 20 Juli 2011
sulaman yang indah
Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain.
Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan.
Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain.
Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet.
Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut:
“Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini; nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas.”
Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu Semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil; ” anakku, mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu. “
Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet.
Kemudian ibu berkata:
”Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya.
Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan."
Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada Tuhan; “Tuhan, apa yang Engkau lakukan? ”
Dan aku membantah,” Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?”
Kemudian Tuhan menjawab,” Hambaku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu. Satu saat nanti Aku akan memanggilmu ke surga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang selalu indah2 untukmu .”
Semua Akan Indah Pada Waktu'Nya
TUHAN MEMBERKATI
"qta hanya melihat apa yang terlihat mata,,jika kamu merasa kamu belum dapat melihatnya,,coba berputarlah, pejamkan matamu, dan lihat dengan hatimu,, lihat dari sisi yang lain,,maka kamu akan melihat sedikit cahaya"
Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan.
Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain.
Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet.
Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut:
“Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini; nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas.”
Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu Semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil; ” anakku, mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu. “
Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet.
Kemudian ibu berkata:
”Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya.
Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan."
Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada Tuhan; “Tuhan, apa yang Engkau lakukan? ”
Ia menjawab: ” Aku sedang menyulam kehidupanmu.”
Dan aku membantah,” Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?”
Kemudian Tuhan menjawab,” Hambaku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu. Satu saat nanti Aku akan memanggilmu ke surga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang selalu indah2 untukmu .”
Semua Akan Indah Pada Waktu'Nya
TUHAN MEMBERKATI
"qta hanya melihat apa yang terlihat mata,,jika kamu merasa kamu belum dapat melihatnya,,coba berputarlah, pejamkan matamu, dan lihat dengan hatimu,, lihat dari sisi yang lain,,maka kamu akan melihat sedikit cahaya"
Kamis, 09 Juni 2011
4 macam tipe orang (katanya tetangga sebelah)
1. Punya waktu tetapi tidak punya uang
Pernahkah Anda bertemu tipe seperti ini? Atau bahkan Anda sendiri? Jangan tersinggung dulu, karena dulu saya juga termasuk golongan seperti ini. Orang dalam golongan ini adalah orang yang mempunyai banyak sekali waktu luang tetapi tidak mempunyai uang. Mereka senang kumpul-kumpul, bermain kartu, karaoke atau bermain Facebook setiap hari. Mereka tidak berpikir tentang masa depan, mereka hanya bersenang-senang untuk hari ini. Orang dalam golongan ini saya sebut sebagai Pengangguran.
2. Punya uang tetapi tidak punya waktu
Orang dalam golongan ini bekerja lebih dari 12 jam sehari, 360 jam sebulan dan 4.320 jam setahun. Mereka adalah orang mempunyai uang banyak, tetapi tidak bisa menghabiskan waktu yang berkualitas bersama orang-orang yang mereka cintai. Mereka mempunyai kolam renang pribadi tetapi yang berenang hanyalah anjing peliharaannya. Mereka mempunyai Home Theatre pribadi tetapi yang menonton hanyalah pembantu rumah tangganya. Mereka berangkat kerja ketika anak mereka masih tidur dan pulang kerja ketika anak mereka sudah tidur. Mungkin panggilan "Om" lebih cocok dibanding dengan panggilan "Ayah". Apakah Anda termasuk golongan ini?
3. Tidak punya waktu dan tidak punya uang
Golongan ini merupakan golongan yang paling buruk di antara golongan yang lain. Orang yang termasuk dalam golongan ini adalah mereka yang sangat sibuk bekerja dan tidak mempunyai waktu dan uang. Rata-rata karyawan termasuk dalam golongan ini. Mereka bekerja dari pagi sampai malam untuk mendapatkan gaji pada akhir bulan, akan tetapi semua gaji mereka habis untuk membayar kewajiban dan utang yang mereka miliki. Istilah ini biasa disebut, gali lubang tutup lubang. Apakah Anda termasuk golongan ini?
4. Punya uang dan punya waktu
Golongan ini merupakan golongan yang paling sempurna. Orang dalam golongan ini adalah mereka yang mempunyai banyak uang dan waktu. Mereka dapat melakukan dan membeli apa pun yang mereka suka, pergi ke tempat mana pun yang mereka inginkan, kapan pun, dan dengan siapa pun. Inilah yang disebut dengan kebebasan sejati.
Nah sekarang coba bayangkan diri Anda terbangun dari tidur yang nyenyak di sebuah resort pribadi di pulau yang indah. Menikmati hangatnya matahari pagi dan sarapan yang sehat bersama keluarga, teman-teman, pacar, atau siapapun yang Anda inginkan. Berenang bersama, mendaki gunung, memancing, dan pergi ke tempat-tempat terindah di seluruh dunia. Mengunjungi panti asuhan, membangun tempat ibadah, dan membeli rumah-rumah mewah. Semua hal ini dapat Anda lakukan terlepas dari siapakah Anda, dimana, dan apapun latar belakang hidup Anda!
Tidak hanya itu, bisnis Anda tetap berjalan lancar, bahkan bertambah besar pada saat Anda sedang berlibur sekalipun. Anda dapat pergi ke Italy, merasakan harumnya minyak zaitun, menyantap pasta yang lezat, menikmati musik, dan merasakan nyamannya hotel bintang lima dengan fasilitas-fasilitas yang luar biasa. Anda bisa memiliki waktu yang berkualitas bersama orang-orang yang Anda cintai!
Bagaimana perasaan Anda setelah membayangkan semua hal tersebut benar-benar terjadi dalam hidup Anda? Apa pilihan Anda? Menjalani rutinitas harian yang membosankan dan menjadi seperti robot atau menjalani kehidupan yang bebas uang dan waktu? Saya rasa akan ada beberapa orang yang tetap memilih pilihan pertama. Akan tetapi, jika Anda memilih pilihan yang kedua, tetaplah bersama saya.
(sumber: http://troyhambali.webs.com/)
http://www.facebook.com/pages/Troy-Hambali/149365621755551
Pernahkah Anda bertemu tipe seperti ini? Atau bahkan Anda sendiri? Jangan tersinggung dulu, karena dulu saya juga termasuk golongan seperti ini. Orang dalam golongan ini adalah orang yang mempunyai banyak sekali waktu luang tetapi tidak mempunyai uang. Mereka senang kumpul-kumpul, bermain kartu, karaoke atau bermain Facebook setiap hari. Mereka tidak berpikir tentang masa depan, mereka hanya bersenang-senang untuk hari ini. Orang dalam golongan ini saya sebut sebagai Pengangguran.
2. Punya uang tetapi tidak punya waktu
Orang dalam golongan ini bekerja lebih dari 12 jam sehari, 360 jam sebulan dan 4.320 jam setahun. Mereka adalah orang mempunyai uang banyak, tetapi tidak bisa menghabiskan waktu yang berkualitas bersama orang-orang yang mereka cintai. Mereka mempunyai kolam renang pribadi tetapi yang berenang hanyalah anjing peliharaannya. Mereka mempunyai Home Theatre pribadi tetapi yang menonton hanyalah pembantu rumah tangganya. Mereka berangkat kerja ketika anak mereka masih tidur dan pulang kerja ketika anak mereka sudah tidur. Mungkin panggilan "Om" lebih cocok dibanding dengan panggilan "Ayah". Apakah Anda termasuk golongan ini?
3. Tidak punya waktu dan tidak punya uang
Golongan ini merupakan golongan yang paling buruk di antara golongan yang lain. Orang yang termasuk dalam golongan ini adalah mereka yang sangat sibuk bekerja dan tidak mempunyai waktu dan uang. Rata-rata karyawan termasuk dalam golongan ini. Mereka bekerja dari pagi sampai malam untuk mendapatkan gaji pada akhir bulan, akan tetapi semua gaji mereka habis untuk membayar kewajiban dan utang yang mereka miliki. Istilah ini biasa disebut, gali lubang tutup lubang. Apakah Anda termasuk golongan ini?
4. Punya uang dan punya waktu
Golongan ini merupakan golongan yang paling sempurna. Orang dalam golongan ini adalah mereka yang mempunyai banyak uang dan waktu. Mereka dapat melakukan dan membeli apa pun yang mereka suka, pergi ke tempat mana pun yang mereka inginkan, kapan pun, dan dengan siapa pun. Inilah yang disebut dengan kebebasan sejati.
HAK HIDUP ANDA
Nah sekarang coba bayangkan diri Anda terbangun dari tidur yang nyenyak di sebuah resort pribadi di pulau yang indah. Menikmati hangatnya matahari pagi dan sarapan yang sehat bersama keluarga, teman-teman, pacar, atau siapapun yang Anda inginkan. Berenang bersama, mendaki gunung, memancing, dan pergi ke tempat-tempat terindah di seluruh dunia. Mengunjungi panti asuhan, membangun tempat ibadah, dan membeli rumah-rumah mewah. Semua hal ini dapat Anda lakukan terlepas dari siapakah Anda, dimana, dan apapun latar belakang hidup Anda!
Tidak hanya itu, bisnis Anda tetap berjalan lancar, bahkan bertambah besar pada saat Anda sedang berlibur sekalipun. Anda dapat pergi ke Italy, merasakan harumnya minyak zaitun, menyantap pasta yang lezat, menikmati musik, dan merasakan nyamannya hotel bintang lima dengan fasilitas-fasilitas yang luar biasa. Anda bisa memiliki waktu yang berkualitas bersama orang-orang yang Anda cintai!
Bagaimana perasaan Anda setelah membayangkan semua hal tersebut benar-benar terjadi dalam hidup Anda? Apa pilihan Anda? Menjalani rutinitas harian yang membosankan dan menjadi seperti robot atau menjalani kehidupan yang bebas uang dan waktu? Saya rasa akan ada beberapa orang yang tetap memilih pilihan pertama. Akan tetapi, jika Anda memilih pilihan yang kedua, tetaplah bersama saya.
(sumber: http://troyhambali.webs.com/)
http://www.facebook.com/pages/Troy-Hambali/149365621755551
Selasa, 07 Juni 2011
Kisah Tabur Tuai
Pada suatu hari seorang pemuda berjalan di tengah hutan, tiba-tiba ia mendengar jeritan minta tolong. Ternyata ia melihat seorang pemuda sebaya dengan dia sedang bergumul dengan lumpur yang mengambang. Semakin bergerak malah semakin dalam ia terperosok. Pemuda yang pertama tadi hendak sekuat tenaga memberikan pertolongannya. Dengan susah payah pemuda yang terperosok itu dapat di selamatkan. Pemuda yang pertama tadi memapah pemuda yang terperosok itu pulang kerumahnya.
Ternyata si pemuda kedua ini anak orang kaya. Rumahnya sangat bagus, besar dan mewah luar biasa. Ayah pemuda ini sangat berterimakasih atas pertolongan yang di berikan kepada anaknya dan hendak memberikan uang, tetapi pemuda pertama tadi menolak pemberian tersebut. Ia berkata bahwa sudah selayaknya sesama manusia menolong orang lain yang sedang dalam kesusahan. Sejak kejadian ini mereka menjalin persahabatan.
Si pemuda yang pertama adalah seorang miskin sedangkan pemuda kedua adalah anak seorang bangsawan kaya raya. Si pemuda miskin memiliki cita-cita menjadi seorang dokter, namun ia tidak memiliki biaya untuk kuliah. Kemudian ada seorang yang murah hati mau memberikan beasiswa untuknya sampai akhirnya meraih gelar dokter. Orang ini tak lain adalah ayah pemuda yang ditolongnya tadi.
Tahukah anda nama pemuda miskin yang akhirnya menjadi dokter ini? Namanya Alexander Flemming, yang kemudian menemukan obat penisilin. Si pemuda bagsawan masuk dinas militer dan dalam suatu tugas ke medan tempur ia terluka parah sehingga menyebakan demam yang sangat tinggi karena infeksi. Pada waktu itu belum ada obat infeksi semacam itu. Para dokter mendengar tentang penisilin penemuan dr.Flemming dan mereka menyuntik penisiln yang merupakan penemuan baru itu. Apa yang terjadi? Berangsur-angsur demam akibat infeksi itu reda dan si pemuda itu akhirnya sembuh.
Tahukah anda siapa nama pemuda-pemuda itu? Namanya adalah Winston Churchil, Perdana Menteri Inggris yang termasyur itu. Dalam kisah ini kita dapat melihat hukum manabur dan menuai. Flemming menabur kebaikan dan ia menuai kebaikan pula. Cita-cita untuk menjadi seorang dokter. Flemming menukan penisilin yang akhirnya menolong Churchil. Tidak sia-sia bukan beasiswa yang di berikan ayah Churchil?
Bagaimana dengan Anda hari ini? Sudahkah hukum tabur dan tuai ini juga senantiasa menghiasi dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan keluarga, pekerjaan dan pelayanan Anda?
Tuhan memberkati
Ternyata si pemuda kedua ini anak orang kaya. Rumahnya sangat bagus, besar dan mewah luar biasa. Ayah pemuda ini sangat berterimakasih atas pertolongan yang di berikan kepada anaknya dan hendak memberikan uang, tetapi pemuda pertama tadi menolak pemberian tersebut. Ia berkata bahwa sudah selayaknya sesama manusia menolong orang lain yang sedang dalam kesusahan. Sejak kejadian ini mereka menjalin persahabatan.
Si pemuda yang pertama adalah seorang miskin sedangkan pemuda kedua adalah anak seorang bangsawan kaya raya. Si pemuda miskin memiliki cita-cita menjadi seorang dokter, namun ia tidak memiliki biaya untuk kuliah. Kemudian ada seorang yang murah hati mau memberikan beasiswa untuknya sampai akhirnya meraih gelar dokter. Orang ini tak lain adalah ayah pemuda yang ditolongnya tadi.
Tahukah anda nama pemuda miskin yang akhirnya menjadi dokter ini? Namanya Alexander Flemming, yang kemudian menemukan obat penisilin. Si pemuda bagsawan masuk dinas militer dan dalam suatu tugas ke medan tempur ia terluka parah sehingga menyebakan demam yang sangat tinggi karena infeksi. Pada waktu itu belum ada obat infeksi semacam itu. Para dokter mendengar tentang penisilin penemuan dr.Flemming dan mereka menyuntik penisiln yang merupakan penemuan baru itu. Apa yang terjadi? Berangsur-angsur demam akibat infeksi itu reda dan si pemuda itu akhirnya sembuh.
Tahukah anda siapa nama pemuda-pemuda itu? Namanya adalah Winston Churchil, Perdana Menteri Inggris yang termasyur itu. Dalam kisah ini kita dapat melihat hukum manabur dan menuai. Flemming menabur kebaikan dan ia menuai kebaikan pula. Cita-cita untuk menjadi seorang dokter. Flemming menukan penisilin yang akhirnya menolong Churchil. Tidak sia-sia bukan beasiswa yang di berikan ayah Churchil?
Bagaimana dengan Anda hari ini? Sudahkah hukum tabur dan tuai ini juga senantiasa menghiasi dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan keluarga, pekerjaan dan pelayanan Anda?
Tuhan memberkati
Label:
Alexander Fleming
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
-->

